Awal yang Malu-malu

By | 6:07 PM Leave a Comment
Dear kertas bergaris dan kosong belum tersentuh..


Bagaimana memulainya??
Kulihat sekitarku..
Tidak ada apa-apa..
Kupandangi garis-garis itu..
Kusentuh badan pena itu..
Kumainkan hingga ia harus bergoyang ke kiri dan ke kanan..

Aku masih saja bingung memulainya..

Kali ini badanku yg kugoyangkan..
Tapi ke depan dan ke belakang..
Berharap ia akan datang dan merasukiku..
Pandanganku pun tak beraturan..
Belum sedetik fokus, sudah mencari fokus yang lain..
bibir pun kumainkan hingga ia terlihat aneh di wajah..

JLEG!

Badanku terhenti!
Aku memandanginya seksama..
Kupicingkan mataku..
Kutarik napasku perlahan-lahan
Kubuang lagi pasrah
Hanya sebuah burung kecilyang mematuk-matuk biji yang terjatuh di halaman..

Aku kembali menatap garis-garis itu..
Burung itu mengingatkanku pada Seseorang..
Sepertinya susah bagiku untuk menuliskannya..
Padahal selama ini Ia yang memeliharaku dan memelihara burung itu..

Tanganku yang daritadi memegang erat pena, mulai bergerak perlahan..
Entah aku berpikir apa, tapi tulisan itu dengan lincahnya tertulis manis di selembaranku..
Apakah mungkin Burung itu membuatku sadar bahwa Ia adalah awal cintaku slama ini..
Tanganku pun berhenti sendiri..
Aku menatap tulisan-tulisan itu..
160 karakter pun tak habis..
Kuhembuskan nafasku..
Barangkali hanya beberapa kalimat, tapi ini awal yang baik..

"Tuhan luar biasa menjaga dan memelihara seekor burung kecil ini, apalagi pada diriku yang besar ini. "

Aku pun tersenyum dan menutup mataku..
Dalam hati pun, aku berkata, " Terima kasih Tuhan," sambil melebarkan senyumanku.



#Tuhan, aku menulisnya masih dengan malu-malu.. Mungkin hari berikutnya, aku bisa lebih berani mengungkapkannya lewat tinta tinta tipis tak beralur ini" 

0 comments:

Post a Comment