Menari Dalam Pesan.

By | 1:00 PM Leave a Comment
Bagi yang suka ngedance, film Step Up tentu jadi film wajib tonton. Setiap gerakan, konsep yang diciptakan, dan cerita dari Step Up 1- Step Up 3, memiliki konsep yang berbeda-beda dan selalu meninggalkan hasrat "menari sambil keluar dari bioskop".

Jika disuruh memilih dari Step Up 1 hingga Step Up 3, saya susah untuk memilih, karena tiap part memiliki konsep yang beda, walau rata-rata karakter perannya sama. Pria dan wanita bertemu dan sama-sama mencintai dunia tari. Kemudian saling jatuh cinta hingga memutuskan untuk bergabung di komunitas yang sama, menari bersama dari hati. Tetapi akan berpisah sementara karena muncullah konflik bermacam-macam, mulai dari keluarga hingga kesalahpahaman. Tapi pada akhirnya mereka akan bersama lagi hingga menciptakan konsep luar biasa bersama komunitas untuk melawan saingan mereka dengan kreativitas.

Hal menarik bagi saya adalah pada bagian konsep dan gerakan-gerakan tak terduga. Bagaimana ya tercipta gerakan-gerakan susah sekaligus unik dan menjadi trensetter? Konsepnya itu tersusun sangat rapi dan bercerita banget.

Hal ini saya temukan lagi di Step Up 4 (Revolution) dengan pemeran baru. Tentunya harus jago dance. Tapi kali ini konsepnya mengikuti tren zaman sekarang. FLASH MOB. Jadi kira-kira ada 4-5 konsep Flash Mob yang dipamerkan, dan itu semua berbeda dengan flash mob yang pernah saya lihat di Youtube. Lagi-lagi konsepnya GILA! Kepikiran nggak sih, lagi ngeliatin lukisan dan patung-patung pahatan, tiba-tiba anda harus menyaksikan MOB yang spektakular, karena menggunakan lampu-lampu hingga cat di badan.

Tapi ada satu hal yang saya dapat di Step Up 4, tapi tidak saya dapatkan di Step Up 1- Step Up 3. Semoga pada setuju ya sama saya ;) Ada beberapa scene yang bikin saya menangis dan mengambil pesan yang terkandung dalam film tersebut. Check this out!

Bentuk protes anak muda agar daerahnya tidak dirusak oleh pengusaha yang tidak bertanggung jawab, dilakukan dengan kreativitas, DANCE. 
Bisa dilihat dalam adegan saat-saat terakhir pengusaha kaya itu ingin meresmikan tempat yang akan menjadi lahan untuk membangun gedung.  Kalau bukan orang kreatif, mungkin bentuk protesnya adalah dengan cara berbondong-bondong membawa kertas bertuliskan, "HENTIKAN PEMBANGUNAN" sambil pakai ikatan di kepala, kemudian menyerukan pendapat. Ahh, no creativity! :p

Cinta tidak melihat kasta. Kenyamanan dan perjuangan menjadi salah satu mengapa cinta terus bertahan.
Sean dan Emily adalah salah satu contoh pasangan yang merasa nyaman karena memiliki kesamaan talenta, bahkan bagi mereka, itu adalah passion mereka. Karena 'sama-sama' ditentang oleh keluarga soal passion, dari situlah muncul benih-benih cinta. Mungkin Emily dan Sean akan bilang gini dalam pikirannya, "Gile! Nih cowok/ cewek gue banget sih. Ngerti banget apa yang gw mau. Dukung gw untuk jadi diri sendiri." Dengan begitu, benih cinta mulai tumbuh perlahan. Bahkan ketika Emily adalah anak dari pengusaha kaya tersebut yang ingin menghancurkan lahan masa kecil Sean, Sean masih tetap memperjuangkan hubungannya dengan Emily. Emily pun bersikukuh berkorban demi Sean hingga harus menyakiti perasaan ayahnya secara diam-diam. Hal ini penting banget dalam sebuah hubungan selain cinta, respect dan trust. Kalau udah kayak gini, mau sesusah apapun, pasti akhirnya akan bersama.

Persahabatan membutuhkan hati yang mengalah dan kemauan meminta maaf duluan demi sahabat dan komunitasnya bersatu kembali.
Tengok sahabat Sean yang pada akhirnya luntur karena tidak tahan berdiam-diaman dengan Sean. Memaafkan menjadi solusi terbaik ketika ingin segalanya menjadi baik. Pintar tapi susah untuk memaafkan jatuhnya tidak akan pernah berhasil.

Keegoisan seorang ayah luntur ketika kasih pada anaknya mengalahkan ego tersebut. 
Saya paling senang adegan ini ketika melihat sang Ayah dari Emily terharu, ketika melihat anaknya menari dansa plus tarian jalanan. Ia melihat talenta yang selama ini ia tidak mau terima ada dalam diri anaknya. Penyesalan itu pun datang kemudian. Bagaimana mungkin selama ini dia tidak pernah membiarkan anaknya memilih sendiri jalan hidupnya. So romantic scene between dad and his lovely daughter :')

Berani bicara apa yang diinginkan selama itu adalah passion diri anda yang positif .
Selama anda yakin bahwa itu baik dan akan geluti, kenapa tidak bicarakan saja dengan orang kesayanganmu. Emily dan Sean berani bicara soal mimpi dan cita-citanya pada ayahnya dan kakaknya. Walau mereka harus menerima remehan, tapi mereka tetap berusaha sungguh-sungguh dan berusaha dengan impian mereka. Bicara memang kadang tidak memberi solusi instan, tapi berbicara adalah sebuah proses menuju solusi dan kesuksesan.

Pembuktian diri dilakukan berkali-kali. Jika gagal, percayalah proses yang dilalui ternyata membawa pada hal yang lebih baik yang tak terduga.
Ini adalah puncak pesan yang paling keren bagi saya. There's no surrender. Ketika jatuh, yang bisa dilakukan adalah bangkit lagi. Menikmati proses sesakit apapun ternyata membawa manusia pada hal yang baik. Kalau kata orang-orang bijak, "Let it happen." Ini yang dilakukan Emily saat ia gagal di audisi untuk sebuah sekolah tari. Mungkin saat itu ia sangat sedih dan menyerah karena semuanya hilang, pacarnya menipunya (padahal enggak), ayahnya marah padanya, tapi apa yang ia peroleh. Ada kesempatan ia menari di depan ayahnya bersama pacarnya pula. I get the point. Manusia harus melewati jalan berliku, pohon berduri untuk menemukan pantai dengan warna biru jernih dan pasir putih.

Thanks for Step Up Revolution. You've opened my mind. Really.

*dansa*
doc : deviantart.com

0 comments:

Post a Comment