The Latest

Showing posts with label #love #wedding #couple. Show all posts
Showing posts with label #love #wedding #couple. Show all posts
One word proven helps, even two or three words!

Sebenarnya nikahnya udah hampir 7 bulan lalu, tapi kenapa kemauan buat nulis itu baru sekarang ya. Huft, nggak ada yang terlambat kok, apalagi soal merekomendasikan sesuatu. :)

Nggak cuma aku yang kebingungan nyari tempat jahit kebaya dan make up, sebagian besar orang pun, apalagi untuk pertama kalinya itu, super sulit. Ditambah lagi, jam kerja yang padat, menahan orang buat menunda survei kelilingnya. Akhirnya semua orang pasti beralih apa-apa googling, termasuk survei tempat, kebaya, make up, catering, cetak undangan, dsb. Aku waktu itu juga sampai sempat nyerah karena jarang sekali make up artist ataupun bridal salon di Jambi yang pasang iklan di social media. Makanya aku tergerak buat rekomendasiin tempat jahit kebaya sekaligus make up buat pemberkatanku.

Kebetulan banget, untuk mesan kebaya martumpol (tunangan/ engagement) dan pemberkatan serta resepsi adat, aku pilih kota Jakarta karena pertama, aku saat itu masih kerja di Jakarta. Kedua, di Jakarta pilihannya lebih beragam. Tinggal ketik 'jahit kebaya di Jakarta', pasti resultnya langsung banyak banget!

Penjahit kebaya yang aku pilih buat tunangan adalah BARA KEBAYA. (Instagram: Barakebaya. Whatsapp: 083873989877. Telp: 021 47885198). Kalau pengen langsung ke lokasi, ada di deket terminal Rawamangun Jak-Tim. (googling, please :P)


With my cousin ;)
Abaikan muka anehku :p
Salah satu teman sempat merekomendasikannya, tentunya dari beberapa pilihan yang dia kasih. Berhubung cuma tailor ini yang punya Instagram dan bisa lihat langsung hasil jadi kebayanya dari foto yang dia upload, aku mutusin buat langsung Whatsapp Bara Kebaya buat tau price dan waktu penjahitan. Harganya lumayan affordable untuk lokasi Jakarta, sekitar Rp 1 - 2 juta dibanding dengan V**a Kebaya yang bisa sampai 20 juta-an. (Aku sempat nanya soalnya, dan langsung pingsan pas liat harganya.* Nggak pingsan juga sih.) Selain itu, dia ternyata sudah jadi langganan jahit orang-orang batak. Apa lagi lah yang perlu dikhawatirkan? *Sambil logat batak*
Pas fitting, aku cuma senyum-senyum aja. Kenapa? Puas bangeeeett! Kebayanya fit to body. Lemakku tertutup semua berkat bustier yang pas di badan, meski masih harus ada yang direvisi. Bahkan di fitting kedua, Bara Kebaya memayet kebayaku dengan hasil berbeda dari yang kuinginkan. Tadinya aku cuma pengen di bagian leher, punggung, bagian bawah dan pergelangan tangan. Taunya hampir seluruh bagian dipayet dia dengan warna hijau merah. Aww, beyond my expectation!

Sedangkan untuk kebaya pemberkatan dan resepsi adat, aku menggunakan jasa MoD, langsung sama Designernya, kak Liane Puspita. (Instagram: lianepuspita. Line: lianepuspita. Telp: 021 4205248). Lokasinya ada di Jalan Rawamangun No. 48 Pramuka, seberangnya RSIA Evasari Jak-Pus.

Kak liane lulusan ESMOD (biar makin yakin :p). Aku taunya juga dari teman aku yang sering banget jadi model pemotretan dia. Karena selain punya MoD, dia juga bikin Ready to Wear Brand. Kakak ini super sabar dan enak diajak kerja sama saat aku minta dibikinin kebaya ini. Di saat aku lagi bingung pengen dipayet di bagian mana aja, dia kasih saran yang nggak kepikiran sama aku, haha. Dan dia mewujudkan kebaya super sederhana seperti keinginan aku. *Meski setelah nikah, nyesal juga nggak bikin kebaya panjang beserta ekor gaunnya. :( 
Saran aja sih, kalau emang pengen jahit kebaya nikah, sebaiknya dilakuin 3-4 bulan sebelumnya. Selain ada fitting 2-3 kali, tempat bikin kebaya juga biasanya penuh customer, sehingga mau nggak mau kebaya kita mesti antri. The most important is, harus DIET atau bahasa halusnya pertahanin berat badan. Nggak boleh turun, nggak boleh naik. Namanya juga kebaya fit to body. *tears*
For your info, kenapa akunya jadi kelihatan lebih cantik dari biasanya (katanya sih mirip Ashanti. Anaaaaannggggggg #lho), soalnya aku di make up-in sama mbak Puteri. Bisa di cek di Instagramnya @puteriastri_MUA atau Line ke puteriastri. Yang pasti, aku nggak kelihatan jadi menor, malah make-upnya kelihatan natural alias mukaku nggak berubah penuh dempul, hihi.




Selamat mempersiapkan pernikahan. Tetap berdoa, tetap berpikir positif dan don't be too perfectionist. Happy enjoy to preparing the big days!

Ada satu quote bilang, “A picture can tell a thousand words.” BENER banget! Tanpa dijelasin pun, mereka selalu bisa munculin persepsi yang berbeda dari banyak orang. Disimpan bertahun-tahun pun, keindahan maknanya masih aja (dan akan selamanya) berarti sejuta kata. Makanya saya salut banget sama orang tua saya yang masih menyimpan foto-foto mereka pas masih muda. Dari zaman masih lajang dan gadis sampe akhirnya udah nikah dan punya anak-anak (lucu kayak saya, yeks). Ngelihat lembar demi lembar, saya mulai mengerti bahwa kenangan, harapan, tawa bahagia, kesedihan dan segala ungkapan yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa terulang lewat sebuah foto. Gara-gara itu juga, saya dan suami saya (dulu masih pacar, ihiy) mewajibkan FOTO PREWED ada di list kita berdua. Mungkin keliatannya agak terlalu glamour ato hedonis. Ngapain sih harus bikin foto yang semuanya dirancang (mulai dari wardrobe, background, gaya foto, make up dan tempat) kalo pada akhirnya hanya dipajang di wedding reception, lalu kemudian diturunkan dan pada akhirnya hanya dilihat berdua saja. Tapi setelah dipikir matang-matang, sebenarnya kita BUTUH ini. Bayangkan saja 20 tahun ke depan ketika saya dan suami udah punya anak yang beranjak dewasa, ngelihat foto-foto kami sekarang, mungkin menjadi sebuah senyuman tanpa henti. “Dulu kita pernah melewati fase ini ya ternyata.” Ato pas zamannya anak kita, tren fashion yang dipake foto prewed ternyata udah jadi 'jadul' di masa anak-anak kita. Bisa lagi, lokasi yang kami pilih sebagai lokasi pemotretan, mungkin bakal jadi cerita lalu alias sudah menjadi sejarah di tahunnya anak kami. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Oleh karena itu, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan foto PREWED yang UNIQUE, QUIRKY, and FUN ala Ribka dan Iwan.

Satu kota yang akan menjadi kenangan di mana kami pertama kali bertemu, itulah yang menginspirasi kami. JOGJA. Padahal yang satu kerja di Jakarta, yang satunya lagi kerja di Melak, Kalimantan Timur. Cuma karena kita emang udah cinta mati sama Jogja, nggak boleh ada pilihan lain saat itu. Biar ada cerita juga kan sama anak, ini loh tempat papa-mama pertama kali bertemu (duatz). Pas libur lebaran pun, kami berdua sempetin ke Jogja buat survey-survei photography pre-wedding (sekitar 3 tempat), nggak ada satupun yang kami pilih karena nggak sesuai sama budget dan permintaan kami (saya tepatnya) yang terlalu banyak. Namanya udah direncanakan, ada aja ya jalannya. Ternyata (bukan sebuah kebetulan) salah satu temen kantor lagi ada project foto prewed (yang pengen diterusin). Dengan beberapa kali negosiasi antara kami berdua soal budget, konsep dan lain sebagainya, saya dan abang Iwan tercinta mutusin buat make jasa Mas Dimas as a Photographer and Dwy as a fashion stylist merangkap make up artist, hihi. Nyari wardrobenya bener-bener aku dan Dwy yang nyari ke tempat yang terkenal murah (rahasia). Tapi sisanya kita tinggal terima jadi, kayak frame, cetak foto and editing photo). Dan setelah ngelihat hasilnya, HUAAAAAH PUAS BANGEEEEETTT! Hasil kerja mereka bikin saya senang banget. Wah, tantangan pas foto prewed terlunaskan sudah. Tantangan yang paling bikin pengen nangis sih, pas dua hari pemotretan (Sabtu-Minggu) yang berakhir dengan hujan deras dan disambi gerimis. Saya waktu itu sampe mikir, sebenarnya kita diizinkan Tuhan nggak sih buat bisa nikah (suer waktu itu lagi DRAMA banget). Belum lagi, saya senang banget sama hasil make up artist hari pertama orang Jogja dan especially hasil make up Dwy di hari kedua (yang pake dress flower di pasir parangkusumo & kemeja flower + dress cokelat). Bikin saya tambah cantik, haha.. Ini hasil kerja keras mereka yang saya harap bisa dilanjutkan dan dipakai lagi sama orang-orang di luar sana. :)

















We're madly in love each other. And, YES FOR SURE i really really grateful being a part of your life forever.