FAMILY TRIP TO DIENG

By | 12:30 PM Leave a Comment
Setelah menikah dan masing-masing punya kerjaan di tiap kota yang berbeda, seperti Lhoksumawe, Jakarta dan Jogja, ternyata rutinitas kumpul lengkap bareng keluarga masih bisa terlaksana. Padahal dulu sempat mengira, kalau nanti udah pada sibuk sendiri, family trip ini bakal susah dilakuin, beda sama waktu masih remaja dulu, jalan-jalan teruuuuuuuusss! 

Nyatanya, rencana buat liburan bareng ke DIENG udah terbersit sejak sebulan lalu begitu dapat kabar ada yang mau ke Jogja. Setelah Papa dan Mama selesai ngehadirin pesta pernikahan sepupu, mereka langsung terbang ke Jogja, setelah sebelumnya liburan ke Sidamanik dulu, tempatnya Ompung. (Huft, padahal aku pengen banget ikut!) Ditambah lagi, abang Muel (my oldest brother) bisa dapat cuti seminggu dari perusahaannya di hari yang sama persis saat orang tua aku datang. Kecuali, Apul. Selain kerja, dia juga harus ngambil S2 selama weekend. Rasanya mustahil untuk liburan lengkap because of his full dayy. :( 

Namanya juga keluarga, dari yang nggak mungkin jadi mungkin. Dari yang ngerencanain 'hari' Selasa buat ke Dieng, berakhir adegan drama 'Apul-tiba-tiba-dateng-ke-Jogja-dan-nyampe-sekitar-Sabtu-malam-tanpa-diketahui-siapapun-selain-bang muel' yang bikin akhirnya kita ngubah rencana buat ke Dieng pas hari Minggu pagi (Saat itu jam menunjukkan 9 malam).

The problem is, mobil rental saat weekend pasti abis 'dimakan' pelanggan. Belum lagi, mobil yang kita pengen, yaitu Innova (secara semuanya angkatan 'berat dan panjang kaki') ludes di rental manapun yang kita telpon di malam hari, kecuali Avanza. Sempet nyerah sih, masa harus diundur. "Nggak boleh, nggak boleh," kataku. Sampe jam 11 malam pun kita masih belum tau mau naek mobil apa. Saat itu, kita cuma percaya, "Pasti ada mobil, pasti jadi ke Dieng." Sementara aku nyari nomer-nomer telepon rental mobil, yang bikin kesel adalah, dua orang laki-laki yang paling ngebet buat liburan besok, mendadak modom *tidur*. Buseeeetttt, niat nggak sih. -_-"

Singkat cerita, jam 6 pagi aku bangun duluan, dan menelpon beberapa rental (Kayaknya sih paling semangat aku doang), kita akhirnya dapat mobil meskipun cuma merek Avanza. Pulang gereja, kita langsung packing barang. JAKET TEBAL, SEPATU dan SYAL paling penting, kalau nggak mau mati kedinginan. Sisanya, tetep peralatan narsis :p


Our properties
Khusus sarung tangan, topi reggae dan senter, kita beli langsung di lokasi. Total harganya sekitar Rp 50.000 untuk tiga barang tadi. Itu udah hasil tawar menawar mamak dengan penjual :p

Berangkat sekitar jam 11 siang dari Jogja ngelewatin Magelang, Temanggung, Wonosobo dan akhirnya jalan Dieng, yang jaraknya sekitar 114 km. Kita nyampe sekitar jam 3 sore. Untungnya jalanan nggak macet banget. Mungkin pada milih tidur siang kali ya, secara Seninnya udah pada kerja. Bonus pas berada di mobil, kita bisa ngelihat cantiknya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Cool! Ngeliat desa dan ladang-ladangnya yang berbentuk jenjang. Penasaran, kenapa bisa serapi itu, padahal letaknya nggak datar, tapi menyerupai tangga. Di kaki gunung pula! 
Tanpa buang-buang waktu lagi, kita langsung menuju beberapa tempat wisata yang udah di-googling sebelumnya. First destination, kita langsung ambil tiga tempat, yaitu Museum Dieng, Kawah Sikidang dan Candi Arjuna. Soalnya, satu tiket yang dibayar include 3 tempat itu. Otomatis, langsung gerak cepat nih kita sebelum kecamatan Dieng bener-bener gelap. *Nggak mau rugi orangnya*.

Museum Dieng
 Beda dari definisi kata museum, ternyata ini mirip seperti bioskop, namun mini. Kita bisa lihat sejarah Desa Dieng dan beberapa kawah milik Dieng lewat dokumenter video, yang ternyata cukup berbahaya ke area kawah-kawah tertentu bila tanpa alat safetyOverall, konten dokumenter videonya useful, tapi  sayangnya itu adalah dokumenter video jadul yang editan dan dubbernya adalah versi 1990-an. Waaah, bisa jadi project-nya para video maker nih buat retake a video. ;)

Next destination, Kawah Sikidang yang terkenal dengan bau belerangnya. Sebelum mendekat ke kawahnya, kita mesti ngelewatin setiap penjual yang khas ngejualin Carita, bunga Edelweiss dan oleh-oleh khas Wonosobo lainnya. Nggak lengkap kalau nggak makan Carita. Sejenis cemilan buah yang mirip es buah, tapi isinya cuma buah carita *halah*. Rasanya, hmm enak!



Tujuan terakhir sebelum sunset, adalah Candi Arjuna. Sebenarnya masih bagusan candi Borobodur dan Prambanan untuk bentuk reliefnya, tapi rasanya nggak sempurna kalau belum ke sana. Ada bukit Teletubies juga lho. Pengunjung bisa foto bareng Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa dan Po. Tapi yang menarik perhatianku, bukan empat sekawan itu, justru malah bunga-bunganya. So beautiful!
Jalan masuk ke Candi Arjuna



Damanik's Family and Mr. Sihaloho

Makin malam, makin dingin pula si Dieng ini. Yak, semua hal yang bisa menghangatkan tubuh pun, mulai dibeli. Mulai dari french fries (Oya, Dieng terkenal dengan tanaman kentangnya yang bejibun. Di setiap pinggir jalan, pasti juaranya jualan kentang goreng, bukan tempe atau tahu goreng :p), kopi, teh, dan gorengan. Ngedapetin homestay buat tidur? Itu juga baru dapat setelah istirahat di warung dekat Candi Arjuna. Kita emang sengaja nggak booking beberapa hari sebelumnya karena yakin pasti ada homestay yang kosong. (Besoknya kan Senin, mana ada yang liburan enak kayak kita :p). Begitu langsung dapat info dari suaminya penjaga warung yang kita tongkrongin, langsung deh cabut ke lokasi. Bad news is, air panas di homestay mati, terbitlah air es yang mau nggak mau dihadapi. ;)

Second day...
Bangun 03.30 cuma buat bisa ngeliat sunrise dari Puncak Sikunir. Apalagi perjalanan dari homestay - kawasan Puncak itu sekitar 1/2 jam. Kita bener-bener nggak bisa ngeliat seberapa tinggi puncak Sikunir yang mau kita daki ini. Taunya cuma 30 menit nyampe puncak dari garis start. Makanya, kita PD banget bawa bapak dan mamak buat ikutan mendaki ke atas, meski selama perjalanan, banyakan berhentinya. Jelas ngos-ngosan dan sempat nyerah bawa pria dan wanita usia 59 dan 53 tahun ini. Ditambah lagi, terjangan angin macam badai yang nyerang mata dan tenggorokan kita sampe akhirnya mata memerah dan sukses terbatuk-batuk. Untungnya, ada 'penampakan' keren yang bikin kita tetep maju buat ngedaki puncak. Whatever happens, the highest is always be the pride. Bonus setelah sampai di atas, tentu aja pemandangan gunung Sindoro dan gunung Sumbing yang terlihat eksotis karena dicahayai oleh matahari yang sedang menampakkan kecantikannya. Kerennya lagi, mereka kayak ada di atas awan. That's why people call Dieng 'Negeri di Atas Awan'.








 Telaga Warna juga sebenarnya cukup bagus, KALAU dilihat dari atas. Dan masalahnya, baru 1/4 perjalanan, aku, suami, bang Muel dan Apul, udah keburu capek karena energinya habis saat daki puncak Sikunir. Akhirnya kita turun lagi dan berusaha ngehibur diri buat ngelihat Telaga Warna dari pandangan mata yang sejajar aja. Huft.
Ini belum dari atas banget

  Sebelum benar-benar pulang ke Jogja, tentu nggak boleh lupa sama mie khas Wonosobo, yaitu Mie Ongklok. Hihi.. Rasanya sih lumayan enak. Percampuran sayur kol, daun bawang, tahu goreng, kuah dan sedikit bumbu kacang. Ya, semacam tahu tek-tek lah rasanya. :p

Thank you so much Lord for a great holiday!

0 comments:

Post a Comment