Penglihatan Satu Setengah Jam

By | 3:42 AM 1 comment
Jam 12. 50
Memutuskan untuk berangkat. "Kapan lagi kalau bukan sekarang?" Ujarku dalam hati.
Aku pamit pada bapak mamak. Harus bilang, " Pak,Mak, pergi ya". Dan mereka hanya menyahut, "Ya,hati-hati ya".
Aku berjalan ke varijem. (Varijem adalah sebuah kendaraanku yang setia. Sudah pernah aku tulis.)


Sebelum naik, TEKAN PLAY pada Ipod. Cari lagu bagus. Dan tekan PLAY lagi. Yak. Mantab. Brian McKnight. Marry Your Daughter. Calon aja belom punya. Udah sok dengerin lagu ini sambil berimajinasi di motor.


Penglihatan pertama.
"Kakek tua itu ngapain nongkrong di pinggir jalan, sambil jongkok pula. Eh ada rokok rupanya di tangan kanannya. Sudah tua masih saja merokok. Belum sadar dia rupanya sama umur." 


Penglihatan kedua.
Lagi asik ngendarain motor, ngelihat motor yang dikendarain, "Eymmm, cowok apa cewek ya?" Yang pasti rambutnya cepak. Seperti gitaris The Virgin. Hampir saja dia memotong jalan lurusku karena ingin berbelok. Eits! Tidak bisa! Aku langsung menekan klaksonku, tanda tidak boleh belok sebelum aku lewat. Enak saja! Huh! 


Penglihatan ketiga.
Ada ibu-ibu gendut ingin menyebrang. Dia menaikkan tangan kanannya. Seperti memberi tanda STOP! "Aku ingin lewat". Sambil berlari-lari kecil. Setelah itu sok berjalan ala prajurit. Hahahaha.


Penglihatan keempat.
Lagi-lagi motor yang ingin memotong jalan lurusku. Tapi kali ini yang mengendarai laki-laki. Grrr!


Penglihatan kelima.
Mobil yang membawa gas tabung besar. Kalau dari jauh sih terlihat tulisan 40kg. Gas tabungnya ada yang warna biru dan merah. "Wah kurang kuning sama hijau nih" (terinspirasi dari lagu pelangi-pelangi).


Tiba di kampus.


BLA BLA BLA BLA BLA BLA..

Mampir bentar ke Kantor pos. Ingin mengirim surat. Tapi kali ini bukan surat cinta.

14.15
Varijem siap dikendarai. Headphone dan Ipod tidak boleh dimatikan begitu saja. Mereka teman perjalananku. Aku siap pulang.

Penglihatan keenam.
Mobil jazz warna peach hijau muda. Tapi kok suara knalpotnya abis dipreteli. Ah pemiliknya geblek. Mobil lucu imut dan kecil, tapi suara knalpot kayak gitu. Salah pasang kali.

Penglihatan ketujuh.
Ibu berjibab naik sepeda ontel. Jadi ingin naik sepeda di siang-siang terik sepanas ini.

Penglihatan kedelapan
Hampir saja aku kena serempet dari kanan. Ketika ingin belok kiri, aku memang tidak melihat arah kanan. Dan untungnya motor itu hanya membunyikan klaksonku sambil tetap mengegas motornya. Fiuh. Nggak kebayang kalau kena serempet dikit aja. Pasti ini karena melakukan penglihatan. Tapi tetap lanjut...

Penglihatan kesembilan
Ibu dan anaknya sedang naik motor. Yang mengendarai adalah ibunya yang berjilbab. Sambil menepuk-nepuk tas samping milik anaknya. Sepertinya itu kode supaya tas jangan dipakai di samping. Tapi di depan saja. Mencegah hal-hal tidak diinginkan.

Penglihatan kesepuluh.
Sawah yang luas. Hijau dan tumbuh lebat. Jadi inget kalau mamak liat sawah seperti ini, dia akan bernyanyi, "Pandanglah, ladangNya. Tlah hijau. Siapakah yang akan mengerjakannya.." Lagu kesukaan mama ketika ikut kebaktian Tahunan Nasional di Batu Malang.

Akhirnya sampai di rumah. Dan mamak menyambut di depan pintu dengan wajah innocentnya. Hahahaha..

Satu setengah jam ini aku banyak bertemu penglihatan-penglihatan kecil yang mengulur senyum, kaget dan kesal.

Tapi kenapa aku tidak melihat dirimu juga?... (tanda tanya besar pakai tebal)

1 comment: Leave Your Comments